Parenting dan Anak
Mendidik Anak dengan Rumus 7x3

Mendidik Anak dengan Rumus 7x3
Ali bin Abi Thalib mendidik anaknya menggunakan rumus 7x3. . Apa dan bagaimana sih rumus itu berlaku?

Ali bin Abi Thalib mendidik anaknya menggunakan rumus 7x3. .
Apa dan bagaimana sih rumus itu berlaku?

  1. 7 tahun pertama (0-7 tahun), yaitu tahun dimana Ayah/Bunda mendidik anak dengan kelemah lembutan. Pada tahap ini anak belajar dari sikap kita kepadanya, jika kita lembut kepadanya maka ia akan tumbuh menjadi orang yang lembut. Lembut disini bukan berarti kita memanjakan tapi kita tetap tegas mengenai hal-hal yang baik dan tidak untuknya. Banyak hal kecil yang sehari-hari kita lakukan justru akan berdampak baik bagi anak dalam kembang tumbuh dan perilakunya, misalnya:
  • Bila kita langsung menjawab dan menghampirinya saat ia memanggil kita- bahkan ketika kita sedang sibuk dengan pekerjaan kita – maka ia akan langsung menjawab dan menghampiri kita ketika kita memanggilnya.
  • Saat kita berusaha keras menahan emosi di saat ia melakukan kesalahan sebesar apapun, lihatlah dikemudian hari ia akan mampu menahan emosinya ketika adik/ temannya melakukan kesalahan padanya.
Maka ketika kita selalu berusaha sekuat tenaga untuk melayani dan menyenangkan hati anak yang belum berusia tujuh tahun, insya Allah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, perhatian dan bertanggung jawab.
 
  1. 7 tahun kedua (8-14 tahun), yaitu tahun anak masuk ke dalam penanaman masalah prinsip. Inilah dimana saatnya anak mengetahui hak dan kewajibannya, tentang akidah dan hukum agama baik yang diwajibkan maupun yang dilarang. Hal-hal tersebut diantaranya: mengerjakan sholat 5 waktu, memakai pakaian yang bersih, rapi, dan menutup aurat, menjaga pergaulan dengan lawan jenis, membiasakan membaca AlQur’an, serta membantu pekerjaan rumah yang sesuai dengan kemampuan anak seusia ini. Pada tahap ini anak juga mulai menerapkan kedisiplinan sehari-hari dengan system reward dan punishment. Hal ini penting dilakukan di tahap ini karena anak sudah mulai mengerti arti tanggung jawab dan konsekuensi tentang suatu hal.
 
  1. 7 tahun ketiga (15-21 tahun), pada tahun ini ajaklah anak untuk bermusyawarah. Posisikan Ayah/Bunda sebagai sahabatnya dan memberi contoh teladan yang baik. Dengan menjadikannya seperti sahabat, anak akan merasa nyaman berbagi tentang hal apapun, ia tidak akan merasa takut akan dihakimi tentang permasalahannya karena ia memiliki tempat terbaik untuk berdiskusi dalam segala hal. Berbicara dari hati ke hati Inilah saat yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengannya, menjelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa. Perlu dikomunikasikan bahwa selain mengalami perubahan fisik, Ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga sangat mungkin akan ada masalah yang harus dihadapinya. Paling penting bagi kita para orang tua adalah kita harus dapat membangun kesadaran pada anak-anak kita bahwa pada usia setelah akil baliqh ini, ia sudah memiliki buku amalannya sendiri yang kelak akan ditayangkan dan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah SWT. Controlling atau pengawasan tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi dengan berdoa untuk kebaikan dan keselamatannya. Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi. Selanjutnya, Ia akan merasa percaya diri dan mempunyai kepribadian yang kuat untuk selalu cenderung pada kebaikan dan menjauhi perilaku buruk.
Semoga bermanfaat yaa Ayah/Bunda☺ sebagai penutup mengutip pernyataan yang cukup terkenal dari Ali bin Abi Thalib

“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”



Tags





Parenting dan Anak Lainnya
Takaran Cinta yang Salah Membinasakan Anakmu
Takaran Cinta yang Salah Membinasakan Anakmu
Senin, 20 November 2017 11:01 WIB
Pernahkah melihat atau mungkin mengalami sendiri ketika menakar tepung saat membuat kue kurang atau lebih? Bagaimana hasil kuenya? Tentunya tidak seperti yang diharapkan. Sudah mencontek resep namun karena tidak ada timbangan yang memadai, akhirnya menggunakan sejata kira-kira, menakar tepung pun meleset jadinya. Apapun itu, ketika ada salah dalam penakaran, tentu hasilnya tak maksimal. Demikianlah orang tua sering melakukannya.
Butuh Kebersamaan Cinta Oleh Bunda Kurnia
Butuh Kebersamaan Cinta Oleh Bunda Kurnia
Jum'at, 29 September 2017 10:51 WIB
Andai sezaman dengan Rasulullah SAW, mungkinkah dia datang hanya untuk yang dicintai & mencintainya saja? Andai begitu, barangkali kita takkan pernah mendengar, bagaimana seorang Abu Sufyan paman yang memusuhi-nya justru dimuliakan dan kediamannya menjadi tempat penyelamatan di Futuh Makkah.
Tinggalkan hal yang Meragukan
Tinggalkan hal yang Meragukan
Senin, 27 Agustus 2018 05:27 WIB
Keyakinan tidak bisa di gugurkan dengan keraguan. Dan jika kita sedang ragu pastikan lah hingga kita merasa yakin. Lalu bagaimana ? “Tanyakan! Pastikan!” . kita bisa melakukan kedua nya untuk memastikan keraguan. Kuncinya bahwa setan akan membuat kita merasa ragu saat kita melakukan kebaikan.
2 Sebab Utama Kenapa 10 Hari Terakhir Ramadhan Sangat Istimewa
2 Sebab Utama Kenapa 10 Hari Terakhir Ramadhan Sangat Istimewa
Kamis, 15 Juni 2017 09:19 WIB
Ayah Bunda, sebentar lagi kita akan memasuki 10 hari bulan Ramadhan. Tidak terasa yah. Bulan Ramadhan merupakan momentum peningkatan kebaikan bagi orang-orang yang bertaqwa dan ladang amal bagi orang-orang shaleh. Terutama, sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Perlu Bantuan?

Hai, Saya Hurriyatun Nadra Anda memerlukan bantuan saat belanja produk? Asisten belanja Anda siap membantu Anda, atau Anda membutuhkan informasi lebih lengkap tentang produk-produk kami silahakan hubungi saya.

Hubungi Saya Tentang Saya